Filed under: teman
<!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>
Menemukan jodoh memang sulit-sulit gampang. Sebagian orang percaya bahwa jodohnya akan datang sendiri, tanpa perlu dicari. Sebagian yang lain, mengambil posisi lebih aktif. Karena mungkin sadar tak ada hasil tanpa upaya. Karena berempati pada daya dan upaya tersebut, ga jarang saya coba membantu teman-teman yang berstatus single ini untuk menemukan jodohnya. Sebetulnya ga murni empati siy, tapi ada kebutuhan memenuhi rasa puas diri sendiri. Jadi mungkin kira-kira kalau saya berhasil mempertemukan jodoh mereka satu dengan yang lain, saya punya semacam monumen lah yang bisa berkisah tentang perjuangan saya…haha! Dari sekian puluh (hitungan khayal lho) sebetulnya yang benar-benar berhasil baru sepasang. Yang cewek temen SMA, yang cowok temen nya kakak saya. Keduanya orang Bali. Tapi setelah berbangga sekian waktu, kayaknya saya mulai bisa melihat sisi lain dari kisah perjodohan yang sukses itu. Dalam hal ini saya jadi agak percaya sama hukum ekonomi, supply-demand, ketika ketersediaan cewek atau cowok bali nya langka, maka perjodohan jadi lebih mudah berhasil (supply rendah, demand tinggi=harga-harga barang turun=kebutuhan bisa terjangkau).
Sementara cerita perjodohan yang gagal bisa jadi karena teman-teman saya yang masih single melihat begitu banyak perbandingan dan pilihan. Sehingga ketika perkenalan belum sampai titik kesimpulan, keputusan ga cocok ma ni orang sudah dibuat. Buat teman Bali yang tadi, yang sebetulnya saya jamin juga mereka ga cocok, keputusan dibuat secara hati-hati. Karena baik yang cewek maupun cowok sama-sama celingukan, di luar sana orang Bali (yang ada dalam jangkauan nya) ga banyak. Saya sendiri ga maksud menilai bahwa mempertimbangkan banyak hal dan memilah-milih adalah sesuatu yang salah. Cuma ada beberapa karakter orang yang menurut saya agak keterlaluan merepotkan. Setengah dicariin dan ternyata ga bisa berlanjut, karena alasan yang hanya mereka berdua yang tahu. Abis itu masih minta dicariin lagi. Dan itu ditagihin tiap ketemu. Kalau udah begitu saya mulai merasa seperti mucikari. Memang sampai saat ini saya belum berorientasi pada keuntungan, tapi bisa jadi suatu saat saya perlu menetapkan biaya.
Beberapa hari ini saya agak berpikir serius tentang keberadaan teman-teman single ini. Sebelum tidur, atau saat memang sulit tertidur, saya menghabiskan waktu dengan menghitung-hitung berapa teman laki-laki yang masih ga berpasangan, dan berapa perempuannya. Setelah itu biasanya saya mencoba memasang-masangkan si A dengan si B. Setahun yang lalu saya masih ingat, jumlah perempuan selalu lebih banyak dari laki-laki. Masuk akal juga kalau diingat populasi perempuan memang lebih banyak dari laki-laki kan. Tapi kebalikannya sekarang, jumlah yang laki-laki udah lebih dari dua kali lipat. Nah ini penjelasannya bisa karena teman laki-laki saya lebih banyak, atau perempuan lebih tidak memilih ketimbang laki-laki, atau banyak laki-laki yang saat ini memang dianggap belum memenuhi syarat untuk dipilih. Daripada pusing mikirin pasal-pasal apa yang belum dimiliki para lelaki ini, mendingan tidur deh…