Filed under: Uncategorized
Pak Ngadino, laki-laki lanjut usia yang bekerja sebagai pengepul barang bekas, kenalan keluarga kami. Kemarin siang dia datang ke rumah, setelah lebih dari 5 bulan tak pernah muncul. Tubuhnya bertambah kurus dan tak kalah renta dengan sepeda motornya yang digelayuti besi2 tua. Ketika ditanya mengapa telah lama tak muncul, dia memberikan alasannya…”tak enak datang ke sini sering-sering, karena banyak dapat pemberian…”. Padahal yang dia bilang pemberian itu biasanya hanya setumpuk koran bekas serta besi2 tua yang teronggok berkarat. Namun kami memang menolak jika dia ingin membayar barang2 tersebut.
Sebuah kompor gas yang rusak telah lama berada di gudang, memang disiapkan jika ia muncul di rumah. Alih-alih senang, Pak Ngadino malah menolak mengambilnya. Lagi-lagi dengan alasan dia takut menerima pemberian yang terlalu berlebihan. Meskipun sebelumnya Pak Ngadino telah cerita panjang lebar betapa semakin sulitnya mencari nafkah saat ini. Dengan takut-takut dia bilang pada suami ku, istrinya minta pakaian perempuan yang sudah tidak terpakai, jika ada untuk lebaran. Tapi kemudian dia buru-buru menambahi, “tidak sekarang, besok-besok saya mampir ke sini lagi…”.
Pak Ngadino pulang dengan setumpuk koran bekas dan beberapa peralatan usang. Tapi tetap dia tak mau membawa kompor yang ditawarkan. Di siang yang terik itu, dia masih akan menyusuri perjalanannya sebelum kembali ke rumahnya di pelosok Bantul. Menjelang keluar pintu gerbang, dia bicara bahasa Jawa halus, yang kira2 artinya…”ijinkan saya kasih uang ke anaknya bapak…saya ingin dia yang terima uang saya…kalau bapak tak memperbolehkan saya beli barang-barang td…”. Kami kemudian terdiam, rasanya tak tega menolak, melihat wajah melas Pak Ngadino. Akhirnya kami biarkan ia memberikan uang Rp 20 rb pada Aya. Gembira memperoleh uang kagetnya, Aya lari ke dalam kamar dan memasukkan uang itu ke dalam celengan. Aduh Pak Ngadino…betapa halalnya rizki yang kau terima…
Yogyakarta, 9 September 2009.
Leave a Comment so far
Leave a comment