What i Feel and Think


Menjadi anak perempuan*
November 24, 2010, 10:01 am
Filed under: Uncategorized

Memiliki dua anak perempuan membuatku selalu bersyukur setiap waktu. Aya adalah yg tertua dan 2 bulan lagi dia akan berusia 5 tahun. Zuwi adiknya, masih 9 bulan di Agustus ini. Mereka adalah impian terbaik yang benar-benar terwujud. Namun memahami apa yang terjadi dengan Aya setiap waktu bukan hal yang mudah. Memahami alasan di balik perkataannya, pilihannya dan emosinya, sungguh sulit. Mungkin itulah hal tersulit yang belum bisa aku pecahkan hingga saat ini.

Aya sudah sekolah sejak usia 1,5 tahun. Pilihan sadar yang aku ambil karena khawatir hidupnya akan didominasi oleh perempuan dewasa yang menjaganya. Meski kadang dia tidak ingin berangkat, namun secara umum Aya menikmati sekolah. Aya sekolah dengan memakai baju seragam di hari Senin-Selasa dan baju olah raga di hari Rabu. Dua hari berikutnya dia boleh menggunakan baju bebas. Pada hari-hari itulah biasanya selalu terjadi pertengkaran antara aku dan Aya. Setelah mandi, aku akan memilihkan pakaian untuknya. Pilihanku biasanya jatuh pada baju terusan yang jarang dia pakai, sederhana aja supaya baju itu sempat dipakai sebelum akhirnya akan jadi terlalu kecil. Dan pilihanku tidak pernah sesuai dengan keinginannya. Tentu saja aku tahu kemungkinan itu, karena Aya memang selalu memilih salah satu dari 3 buah terusannya secara bergantian diantara 7 terusan yang ada di lemarinya. Meski sudah tahu akan ditolak, aku akan memaksa dia untuk menerima pilihanku, dan Aya akan tetap menolak telak. Tidak ada satupun kata atau bujukan yang bisa mengubah pandangannya. “Aku ga mau baju itu, aku ga suka…” pasti itu yang dia ucapkan sambil melempar baju tersebut. Dengan rasa kesal, walaupun sudah menduga penolakan itu, aku akan mengejar telinga Aya dan melampiaskan rasa gemasku di sana. Dan selalu sambil meringis menahan tangis, Aya akan minta aku mengambil salah satu dari 3 baju utamanya. Dan dia akan mendengar ocehanku yang sama tentang baju-baju itu, bahwa itu-itu saja yang dipakai, seperti tidak punya baju lain dan tidak lupa aku tambahkan dengan ancaman tidak akan membelikan baju lagi untuknya. Perselisihan lain yang selalu membumbui pagi hari ku dan Aya adalah tentang rambut panjangnya yang tidak mau dikuncir. Entah kenapa pilihan seorang anak yang belum 5 tahun ini menjadi lebih menyebalkan jika terjadi di pagi hari. Kata-kata ku yang sama pun akan selalu dia dengar, “aku potong nanti rambutmu, kalau ga mau dikuncir…”. Dan Aya akan selalu berkata “jangan…”.

Dulu, aku pernah menjadi anak perempuan seperti Aya. Seingatku baju apapun yang dipakaikan mama tidak akan aku tolak. Juga apapun yang dilakukan mama terhadap rambutku. Memang kemudian aku berubah, ingin memilih sendiri pakaian dan gaya rambutku, tapi pasti usiaku sudah lebih dari 5 tahun kala itu. Bagiku Aya terlalu cepat memiliki pilihan sendiri. Meski untuk hal-hal yang mungkin terkait dengan rasa nyamannya. Suatu sore dia bercerita tentang bagaimana komentar temannya terhadap rambutnya yang panjang. Dia bilang kalau kamu dipanggil, kamu harus menengok sambil mengibaskan rambutmu yang panjang (dia memperagakan gerakannya padaku). Menurut Ara, temannya itu, begitulah cara seorang princess menengok jika dipanggil. Hmm..ini rupanya alasan mengapa rambut tidak perlu dikuncir atau dibando. Aku mulai menarik kesimpulan bahwa komentar seorang teman terhadap rambut atau pakaian adalah alasan yang membentuk keinginan-keinginan Aya.

Sebetulnya diam-diam aku senang Aya punya pilihan dan gigih mempertahankannya. Rasanya juga aku tidak berhak menentukan pada usia berapa seharusnya anak boleh mulai memilih. Perkembanganku ketika masih kecil dengan Aya saat ini tentu tidak bisa disamakan. Satu-satunya yang ingin aku pastikan adalah Aya dapat membuat pilihan dengan menggunakan ukuran kenyamanannya dan bukan karena ukuran lain. Aya memang berbeda tingkat feminitasnya dengan ku, suka atau tidak begitulah kenyataannya. Dia punya standar kecantikan baku sebagai anak perempuan, rambut panjang tergerai, kulit jangan hitam, baju terusan lebar dan bisa mekar jika berputar. Sementara di masa kecilku, aku bahkan tidak merasa kecantikan relevan dengan hidupku. Kulitku hitam, selalu dengan bekas luka di lutut, rambut potongan yang sama, bercelana pendek agar mudah memanjat ke atap untuk melihat langit. Aku bahkan ingat masih agak lama setelah itu sampai akhirnya aku mengidentifikasi diri sebagai anak perempuan. Tapi menerima identitas kelamin sosial itu bukan hal yang mudah bagiku. Kelihatannya Aya tidak akan serumit prosesku dan semoga Aya menyambutnya dengan bahagia. Di saat tenang dan jauh dari rumah seperti saat ini, aku menyesali perkataan dan perbuatanku padanya. “Maaf ya nak, mama ga pernah melalui proses yang kamu alami…” (Argolawu, 28 Agustus, 2010)

*untuk mereka yang memiliki anak perempuan dan pernah menajadi anak perempuan*


Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s



Follow

Get every new post delivered to your Inbox.