Filed under: Uncategorized
<!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>
Sejak kecil kita sudah mengenal arti sahabat. Indah, manis, lucu, kadang dengan bumbu-bumbu sedih. Itu semua kenangan tentang sahabat. Menciptakan aktivitas bersama, bercengkrama sambil tertawa dan menangis bersama. Dalam setiap episode kehidupan mereka selalu ada dan ga selalu sama. Ada yang pergi dan ada yang baru. Semakin tua kita, dan ini salah satu kesialan menjadi tua, semakin sedikit persahabatan yang terbina. Keberadaan sahabat ga sama seperti sebatang rokok. Walaupun kadang rokok kita bisa jadi sahabat. Tapi rokok kodratnya untuk dihisap habis dan dibuang sisanya. Sementara sahabat hanya ada dan menemani jika dipelihara. Apresiasi terhadap kehadirannya akhirnya akan menentukan seberapa lama ia akan terus ada.
Selain soal ketrampilan dan naluri memelihara, ada beberapa hal lain yang menentukan kehadiran sahabat dalam hidup kita. Persamaan prinsip dan nilai hidup juga minat dan hobi. Nah ini yang berkembang mengikuti umur dan masa. Karena sangat sedikit orang yang baik prinsip, nilai-nilai hidup dan minat nya tetap sama. Ga sama seperti kecoa yang minatnya dari lahir sampe mati cuma di tempat kotor. Manusia berubah orientasinya. Demikian hakikatnya.
Atas dasar kepercayaan itu saya sering memikirkan dan seperti biasa menghitung jumlah sahabat yang ada di masa kini. Ga banyak lagi memang, sebelah tangan pun belum tentu. Kurang mampukah saya memelihara? Semakin sempitkah minat dan prinsip hidup saya? Mestinya dua pertanyaan ini akan terus jadi pertanyaan sampai usia saya lanjut. Orang muda dewasa lain sebaya saya mungkin sudah ada yang bisa menebak orientasi nilai dan minatnya. Mereka yang memang gemar beragama misalnya, di masa tua berharap akan menghabiskan waktu bersama kelompok pengajian atau jamaat gerejanya. Seperti orang tua dan mertua saya. Kebanyakan memang memilih lingkungan ini sebagai tempat berkubang yang paling menjanjikan kepastian. Ada juga yang lebih indah cita-citanya. Seorang yang saya kenal pernah bercerita bahwa dia bersama sekelompok sahabatnya telah menemukan apa yang bisa tetap mengikat tali kebersamaan mereka. Di masa tua mereka ingin menghabiskan hidup di sebuah rumah jompo bersama-sama. Di situ tentu saja ada suami dan isteri masing-masing. Kelihatannya persahabatan yang telah terinternalisasi ke dalam keluarga memang akan lebih langgeng. Jadi hasrat saling memelihara kebersamaan dijamin oleh pasangan masing-masing yang punya apresiasi sama. Sahabat lawan jenis di masa dewasa akan jauh lebih sulit dipelihara. Apalagi jika kita sendiri diam-diam mengiyakan kekhawatiran pasangan. Ha ha!
Leave a Comment so far
Leave a comment