Filed under: Uncategorized
Heran, hari itu aku cukup sabar, sambil berjongkok dan menatap matanya, aku bicara, “Aya…miss mu bisa aja salah, walaupun dia guru, dia bisa salah. Sekarang aku kasih tahu yang betul…Nah besok mungkin mama yang salah, walaupun aku mama mu. Semua orang dewasa bisa buat salah…ga selalu benar. Jadi anak-anak juga bisa mengingatkan kalau miss nya salah…”
Aya mengangguk”..a sing to song…” gumamnya.
(Percayalah nak…bahwa kami tidak selalu benar…siapapun bisa salah, ibu atau guru mu sekalipun…)
*catatan untuk para pendidik*
Desember 2010
Filed under: Uncategorized
Pak Ngadino, laki-laki lanjut usia yang bekerja sebagai pengepul barang bekas, kenalan keluarga kami. Kemarin siang dia datang ke rumah, setelah lebih dari 5 bulan tak pernah muncul. Tubuhnya bertambah kurus dan tak kalah renta dengan sepeda motornya yang digelayuti besi2 tua. Ketika ditanya mengapa telah lama tak muncul, dia memberikan alasannya…”tak enak datang ke sini sering-sering, karena banyak dapat pemberian…”. Padahal yang dia bilang pemberian itu biasanya hanya setumpuk koran bekas serta besi2 tua yang teronggok berkarat. Namun kami memang menolak jika dia ingin membayar barang2 tersebut.
Sebuah kompor gas yang rusak telah lama berada di gudang, memang disiapkan jika ia muncul di rumah. Alih-alih senang, Pak Ngadino malah menolak mengambilnya. Lagi-lagi dengan alasan dia takut menerima pemberian yang terlalu berlebihan. Meskipun sebelumnya Pak Ngadino telah cerita panjang lebar betapa semakin sulitnya mencari nafkah saat ini. Dengan takut-takut dia bilang pada suami ku, istrinya minta pakaian perempuan yang sudah tidak terpakai, jika ada untuk lebaran. Tapi kemudian dia buru-buru menambahi, “tidak sekarang, besok-besok saya mampir ke sini lagi…”.
Pak Ngadino pulang dengan setumpuk koran bekas dan beberapa peralatan usang. Tapi tetap dia tak mau membawa kompor yang ditawarkan. Di siang yang terik itu, dia masih akan menyusuri perjalanannya sebelum kembali ke rumahnya di pelosok Bantul. Menjelang keluar pintu gerbang, dia bicara bahasa Jawa halus, yang kira2 artinya…”ijinkan saya kasih uang ke anaknya bapak…saya ingin dia yang terima uang saya…kalau bapak tak memperbolehkan saya beli barang-barang td…”. Kami kemudian terdiam, rasanya tak tega menolak, melihat wajah melas Pak Ngadino. Akhirnya kami biarkan ia memberikan uang Rp 20 rb pada Aya. Gembira memperoleh uang kagetnya, Aya lari ke dalam kamar dan memasukkan uang itu ke dalam celengan. Aduh Pak Ngadino…betapa halalnya rizki yang kau terima…
Yogyakarta, 9 September 2009.
Filed under: Uncategorized
Memiliki dua anak perempuan membuatku selalu bersyukur setiap waktu. Aya adalah yg tertua dan 2 bulan lagi dia akan berusia 5 tahun. Zuwi adiknya, masih 9 bulan di Agustus ini. Mereka adalah impian terbaik yang benar-benar terwujud. Namun memahami apa yang terjadi dengan Aya setiap waktu bukan hal yang mudah. Memahami alasan di balik perkataannya, pilihannya dan emosinya, sungguh sulit. Mungkin itulah hal tersulit yang belum bisa aku pecahkan hingga saat ini.
Aya sudah sekolah sejak usia 1,5 tahun. Pilihan sadar yang aku ambil karena khawatir hidupnya akan didominasi oleh perempuan dewasa yang menjaganya. Meski kadang dia tidak ingin berangkat, namun secara umum Aya menikmati sekolah. Aya sekolah dengan memakai baju seragam di hari Senin-Selasa dan baju olah raga di hari Rabu. Dua hari berikutnya dia boleh menggunakan baju bebas. Pada hari-hari itulah biasanya selalu terjadi pertengkaran antara aku dan Aya. Setelah mandi, aku akan memilihkan pakaian untuknya. Pilihanku biasanya jatuh pada baju terusan yang jarang dia pakai, sederhana aja supaya baju itu sempat dipakai sebelum akhirnya akan jadi terlalu kecil. Dan pilihanku tidak pernah sesuai dengan keinginannya. Tentu saja aku tahu kemungkinan itu, karena Aya memang selalu memilih salah satu dari 3 buah terusannya secara bergantian diantara 7 terusan yang ada di lemarinya. Meski sudah tahu akan ditolak, aku akan memaksa dia untuk menerima pilihanku, dan Aya akan tetap menolak telak. Tidak ada satupun kata atau bujukan yang bisa mengubah pandangannya. “Aku ga mau baju itu, aku ga suka…” pasti itu yang dia ucapkan sambil melempar baju tersebut. Dengan rasa kesal, walaupun sudah menduga penolakan itu, aku akan mengejar telinga Aya dan melampiaskan rasa gemasku di sana. Dan selalu sambil meringis menahan tangis, Aya akan minta aku mengambil salah satu dari 3 baju utamanya. Dan dia akan mendengar ocehanku yang sama tentang baju-baju itu, bahwa itu-itu saja yang dipakai, seperti tidak punya baju lain dan tidak lupa aku tambahkan dengan ancaman tidak akan membelikan baju lagi untuknya. Perselisihan lain yang selalu membumbui pagi hari ku dan Aya adalah tentang rambut panjangnya yang tidak mau dikuncir. Entah kenapa pilihan seorang anak yang belum 5 tahun ini menjadi lebih menyebalkan jika terjadi di pagi hari. Kata-kata ku yang sama pun akan selalu dia dengar, “aku potong nanti rambutmu, kalau ga mau dikuncir…”. Dan Aya akan selalu berkata “jangan…”.
Dulu, aku pernah menjadi anak perempuan seperti Aya. Seingatku baju apapun yang dipakaikan mama tidak akan aku tolak. Juga apapun yang dilakukan mama terhadap rambutku. Memang kemudian aku berubah, ingin memilih sendiri pakaian dan gaya rambutku, tapi pasti usiaku sudah lebih dari 5 tahun kala itu. Bagiku Aya terlalu cepat memiliki pilihan sendiri. Meski untuk hal-hal yang mungkin terkait dengan rasa nyamannya. Suatu sore dia bercerita tentang bagaimana komentar temannya terhadap rambutnya yang panjang. Dia bilang kalau kamu dipanggil, kamu harus menengok sambil mengibaskan rambutmu yang panjang (dia memperagakan gerakannya padaku). Menurut Ara, temannya itu, begitulah cara seorang princess menengok jika dipanggil. Hmm..ini rupanya alasan mengapa rambut tidak perlu dikuncir atau dibando. Aku mulai menarik kesimpulan bahwa komentar seorang teman terhadap rambut atau pakaian adalah alasan yang membentuk keinginan-keinginan Aya.
Sebetulnya diam-diam aku senang Aya punya pilihan dan gigih mempertahankannya. Rasanya juga aku tidak berhak menentukan pada usia berapa seharusnya anak boleh mulai memilih. Perkembanganku ketika masih kecil dengan Aya saat ini tentu tidak bisa disamakan. Satu-satunya yang ingin aku pastikan adalah Aya dapat membuat pilihan dengan menggunakan ukuran kenyamanannya dan bukan karena ukuran lain. Aya memang berbeda tingkat feminitasnya dengan ku, suka atau tidak begitulah kenyataannya. Dia punya standar kecantikan baku sebagai anak perempuan, rambut panjang tergerai, kulit jangan hitam, baju terusan lebar dan bisa mekar jika berputar. Sementara di masa kecilku, aku bahkan tidak merasa kecantikan relevan dengan hidupku. Kulitku hitam, selalu dengan bekas luka di lutut, rambut potongan yang sama, bercelana pendek agar mudah memanjat ke atap untuk melihat langit. Aku bahkan ingat masih agak lama setelah itu sampai akhirnya aku mengidentifikasi diri sebagai anak perempuan. Tapi menerima identitas kelamin sosial itu bukan hal yang mudah bagiku. Kelihatannya Aya tidak akan serumit prosesku dan semoga Aya menyambutnya dengan bahagia. Di saat tenang dan jauh dari rumah seperti saat ini, aku menyesali perkataan dan perbuatanku padanya. “Maaf ya nak, mama ga pernah melalui proses yang kamu alami…” (Argolawu, 28 Agustus, 2010)
*untuk mereka yang memiliki anak perempuan dan pernah menajadi anak perempuan*
Filed under: Uncategorized
Menjadi orang dewasa kadang merupakan sebuah kesialan, karena kita kian kehilangan kemurnian dalam berkomunikasi dengan orang lain. Kata-kata yang dikeluarkan orang dewasa sangat berbeda dengan anak-anak, kita sebetulnya “kering”, ga punya semangat imajinasi dan penuh dengan tendensi pragmatis. Dan aku menyadari itu selama berkomunikasi dengan Aya. Beberapa hari yang lalu di saat kami melihat langit dari teras rumah, dia bilang “wah ma ada bulan sabit, bagus banget…”. Dan aku menjawab pendek “iya”. Sambil mengejar langkahku yang berlalu cepat, dia menyambung dengan pertanyaan lain, “kalau bulan sabit itu jatoh, karena aku mau ambil, besok pagi-pagi dia masih akan ada di langit ga ma?”. Aku yang sibuk menghangatkan makanan di dapur, mengernyitkan dahi…Ah gangerti aku maksudmu, balasku tanpa menoleh padanya. Aya tak peduli dan tetap berkeras dengan topik yang sama, kali ini dengan tangan yang sibuk memperagakan …”gini ma, bulan itu jatuh dari langit, terus aku ambil, nah di langit masih ada bulan ga besok pagi2?”. Aku mulai kesal menjawab, “yah mustinya udah ga ada lagi di langit (dengan logika sebab-akibat). Aya menyambar lagi..”engga, engga..denger maksudku…”. Tak sabar menunggu kalimat selanjutnya aku memotong, “udah Aya, aku ga ngerti, udah aku bilang dari tadi, kamu ngeyel…sekarang aku lagi repot, ga usah cerewet. Terserah kamu bulannya mau ada lagi juga gpp..”. Akhirnya Aya menyerah melihat aku yang jengkel, tp sebelum berlalu dia sempat mengeluarkan pendapatnya lagi “klo bintang jatoh kan, besoknya masih ada bintang di langit…”. Agak tercenung, aku menjawab, masih dengan nada ketus “oh ya..bulan cuma ada 1, lagian yang bisa jatoh cuma bintang…ga ada bulan jatuh. Aya meninggalkan aku dengan wajah tidak puas, dan tiba2 aku terganggu dengan pikiran sendiri apakah memang “bintang jatuh” itu sebuah istilah atau fenomena alam beneran. Klo memang dia jatuh apakah bisa diambil seorang anak kecil? Ah, kenapa aku ga mencoba mengikuti sedikit imajinasinya…padahal itu adalah kemewahan yang hanya dimiliki oleh anak2, sebelum mereka akhirnya menjadi remaja, saat akan lari pada teman2nya atau tenggelam dalam buku2…
Selamat ulang tahun ke 5, Aya..I love u
October, 14
Filed under: Uncategorized
Ada banyak pertanyaan yang selalu dimulai dengan kata “kenapa?”. Kalau Aya, anak ku, dia mulai dengan kata tanya itu karena memang dia butuh jawaban, klo aku lebih karena ga bs menerima kenyataan. Hiks… Misalnya, kenapa siy sangat jarang orang yang membutuhkan uang bs langsung dipertemukan dengan orang yang punya uang? Maksudku disini tanpa perantara, dalam arti orang maupun suatu tindakan antara. Mesjid, Gereja itu perantara yang dapat legitimasi sosial. Ngemis di jalan itu salah satu tindakan antara. Kenapa harus ada sekian upaya, teknik atau strategi dulu agar pertemuan antara kebutuhan dan penyedia kebutuhan tersebut bs bertemu. Jarang, bukan berarti ga pernah. Aku siy percaya alam ini selalu membantu setiap kejadian yang diinginkan manusia, selangka apapun itu. Tapi kenapa juga dibikin langka? Ketika keinginan itu begitu kuat. Ketika banyak orang yang lagi sangat membutuhkan uang atau makanan, knp orang2 yang kelebihan ga serta merta digerakkan, entah oleh semacam daya tarik bumi, untuk membantu menyediakan? Rasanya kalau bumi ini mau membantu sedikit untuk itu, akan banyak orang-orang lapar yang tertolong. Karena ada banyak orang yang sebetulnya siap memberi setiap waktu, tapi ragu apakah bantuannya akan lebih bermanfaat jika diberikan pada si A atau si B, atau mungkin malah si yang lain? Itu karena sang perantara ga cukup meyakinkan, lebih banyak tipu daya. Atau ya ga usah pusing, rutin aja. Buang hartamu setiap waktunya dengan zakat atau apapun istilahnya. Meski orang-orang kelaparan tetap ga pernah berkurang…
Filed under: Uncategorized
<!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>
Sejak kecil kita sudah mengenal arti sahabat. Indah, manis, lucu, kadang dengan bumbu-bumbu sedih. Itu semua kenangan tentang sahabat. Menciptakan aktivitas bersama, bercengkrama sambil tertawa dan menangis bersama. Dalam setiap episode kehidupan mereka selalu ada dan ga selalu sama. Ada yang pergi dan ada yang baru. Semakin tua kita, dan ini salah satu kesialan menjadi tua, semakin sedikit persahabatan yang terbina. Keberadaan sahabat ga sama seperti sebatang rokok. Walaupun kadang rokok kita bisa jadi sahabat. Tapi rokok kodratnya untuk dihisap habis dan dibuang sisanya. Sementara sahabat hanya ada dan menemani jika dipelihara. Apresiasi terhadap kehadirannya akhirnya akan menentukan seberapa lama ia akan terus ada.
Selain soal ketrampilan dan naluri memelihara, ada beberapa hal lain yang menentukan kehadiran sahabat dalam hidup kita. Persamaan prinsip dan nilai hidup juga minat dan hobi. Nah ini yang berkembang mengikuti umur dan masa. Karena sangat sedikit orang yang baik prinsip, nilai-nilai hidup dan minat nya tetap sama. Ga sama seperti kecoa yang minatnya dari lahir sampe mati cuma di tempat kotor. Manusia berubah orientasinya. Demikian hakikatnya.
Atas dasar kepercayaan itu saya sering memikirkan dan seperti biasa menghitung jumlah sahabat yang ada di masa kini. Ga banyak lagi memang, sebelah tangan pun belum tentu. Kurang mampukah saya memelihara? Semakin sempitkah minat dan prinsip hidup saya? Mestinya dua pertanyaan ini akan terus jadi pertanyaan sampai usia saya lanjut. Orang muda dewasa lain sebaya saya mungkin sudah ada yang bisa menebak orientasi nilai dan minatnya. Mereka yang memang gemar beragama misalnya, di masa tua berharap akan menghabiskan waktu bersama kelompok pengajian atau jamaat gerejanya. Seperti orang tua dan mertua saya. Kebanyakan memang memilih lingkungan ini sebagai tempat berkubang yang paling menjanjikan kepastian. Ada juga yang lebih indah cita-citanya. Seorang yang saya kenal pernah bercerita bahwa dia bersama sekelompok sahabatnya telah menemukan apa yang bisa tetap mengikat tali kebersamaan mereka. Di masa tua mereka ingin menghabiskan hidup di sebuah rumah jompo bersama-sama. Di situ tentu saja ada suami dan isteri masing-masing. Kelihatannya persahabatan yang telah terinternalisasi ke dalam keluarga memang akan lebih langgeng. Jadi hasrat saling memelihara kebersamaan dijamin oleh pasangan masing-masing yang punya apresiasi sama. Sahabat lawan jenis di masa dewasa akan jauh lebih sulit dipelihara. Apalagi jika kita sendiri diam-diam mengiyakan kekhawatiran pasangan. Ha ha!
Filed under: Uncategorized
<!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>
Siapa siy leluhur kita? pasti setiap orang punya rasa ingin tahu, setidaknya sedikit tentang hal yang satu ini. mereka yang termasuk di dalamnya tentu saja orang tua, nenek kakek, hingga yang di atas-atasnya. Umumnya setiap orang maksimal hanya akan mengenal secara langsung tiga generasi di atasnya. Lebih dari itu adalah hasil penulusuran atau ceritera yang diturunkan para orang tua yang ada.
Secara teknis mengenal mereka mungkin tak akan mempengaruhi apapun dari kehidupan kita di masa kini atau di masa depan. Tapi barangkali tetap ada gunanya. Ketika kita mengetahui apa yang pernah dilakukan oleh leluhur kita dalam masa hidupnya, akan ada rasa aneh tertentu yang menelusup ke hati kita. Eh bener lho…Misal ternyata kita mengetahui bahwa leluhur kita adalah seorang guru yang hidup di masa semua orang lain di sekitarnya ga berpengetahuan. Maka kita akan terbayang-bayang jaman kita jadi murid yang kurang ajar sama gurunya, atau malah kita jadi ingat ternyata di waktu kecil kita pernah sangat ingin jadi guru. Pokoknya gimana caranya kita berusaha menghubungkan masa lalu itu dengan diri kita sendiri. Seperti kita ingin menemukan bayang-bayang mereka dalam diri kita. Dan kalau lnenek-kakek kita ternyata seorang pemberontak, PKI lah katakan, maka bisa jadi kita akan dengan diam-diam mengkaitkan sifat pemberontak mereka pada diri kita. Tiba-tiba kita bisa menjelaskan kenapa kita sering memberontak pada atasan, atau kenapa kita selalu berpikir dalam kerangka konflik ketika berhadapan dengan suatu keadaan. Ya kira-kira yang ke PKI-PKI an gitu lah. Atau ketika ternyata kakek kita anak buah pangeran Diponegoro. Kita bisa mengerti kenapa ada semangat kepahlawanan yang luar biasa kuat pada diri kita. Intinya kenali lah leluhur mu, agar dirimu bisa mengetahui kenapa ada kecenderungan-kecenderungan tertentu dalam diri kita. Dan barulah kita percaya bahwa ga semua hal itu diperoleh dari masa kini tapi bisa jadi sesuatu yang telah diwariskan.
Filed under: Uncategorized
<!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>
Kalo lo ke jogja, kota yang jadi tempat g bermukim 4 tahun terakhir ini, ada cukup banyak kesempatan untuk melihat laki-laki yang berambut ala rasta. Maksud g trend rambut begini belum basi di sini. Paling banyak malah mungkin yang beredar di sekitar kantor g, di belahan selatan. Mereka biasanya bisa ditemukan saat sedang memacu kendaraan roda dua nya yg reyot, ga jelas modelnya. Atau lagi duduk-duduk di kafe2 kecil dimana terdapat ruang pamer lukisan. Mmhh…pasti lo bs sedikit menduga bahwa mereka ini seniman, atau setidaknya yang punya cita-cita jadi seniman.
Sebetulnya di masa-masa awal g “luntang luntung”, kota ini telah membuat g keheranan karena habitus ini ada di hampir setiap perempatan jalan protokol. Beberapa mukanya sulit dibedakan, mungkin sodaraan pikir g saat itu. Umumnya ga berbaju lengkap, seperti berasal dari peradaban lampau, selalu dengan kumis dan jenggot yang hampir menutupi sebagian mukanya. Kalau liat prilakunya memang yang ini bukan seniman, jg g yakin bukan mereka yg pengen jadi seniman. Untuk lebih meyakinkan mungkin perlu sedikit mendekat, kulit coklat nya yang ga berbungkus itu memang bercampur kotoran dan walaupun g ga pernah deket banget siy, tapi mestinya bau nya ga sedap. Nah ini masih asumsi ya, tapi g akhirnya tau kalau mereka adalah individu2 yang tadinya “orang”, tapi kemudian sejalan dengan waktu, ga lagi dianggap orang. Paling engga, karena dianggap punya tingkat kewarasan yang berbeda.
G sendiri ga pernah merasa terganggu dengan mereka, sesekali kalau lagi ada di perempatan dan motor yang g boncengi merayap pelan, tangan g berusaha menepuk pundak mereka. Sok akrab aja siy. Setelah tengak-tengok sejenak nyari siapa yang nepuk pundaknya, baru biasanya mereka balas menyapa. Tapi bukan ke g, malah ke arah lain. Yang pasti g selalu seneng memandangi para laki-laki berambut rasta ini, ga pernah mereka keliatan menakutkan. Malah menyenangkan. Di bawah lampu merah dia bikin gaya-gaya yang kocak, walaupun g tau sebagian gayanya mungkin mekanis dan tanpa disengaja. Dulu, g ga mau liat ke bagian bawah badan mereka, karena ngeri liat onderdil yang bergelantungan itu. Tapi kadang sekarang ini kalau lagi kurang kerjaan g sengaja melirik pengen tau. Sekedar membuktikan bahwa mereka sebetulnya ga busuk lho…onderdil lo kayaknya sama dengan laki-laki kebanyakan. Dan kadang g menghayal mungkin suatu waktu salah satu dari mereka ada yang g tangkap dan g mandiin. Sumpah deh sayang…kamu sebetulnya ga boleh keluyuran terus ga pake baju di jalanan.
Jadi, coba deh kalau lo ke Jogja, cari sosok orang-orang ini. lo bisa liat mereka sebetulnya lumayan manis dengan kulit coklatnya. Yaa kayak kebanyakan cowok-cowok yang berkumis dan berjambang. Malah kadang g liat mirip kayak laki-laki g yang di rumah…
Filed under: teman
<!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>
Menemukan jodoh memang sulit-sulit gampang. Sebagian orang percaya bahwa jodohnya akan datang sendiri, tanpa perlu dicari. Sebagian yang lain, mengambil posisi lebih aktif. Karena mungkin sadar tak ada hasil tanpa upaya. Karena berempati pada daya dan upaya tersebut, ga jarang saya coba membantu teman-teman yang berstatus single ini untuk menemukan jodohnya. Sebetulnya ga murni empati siy, tapi ada kebutuhan memenuhi rasa puas diri sendiri. Jadi mungkin kira-kira kalau saya berhasil mempertemukan jodoh mereka satu dengan yang lain, saya punya semacam monumen lah yang bisa berkisah tentang perjuangan saya…haha! Dari sekian puluh (hitungan khayal lho) sebetulnya yang benar-benar berhasil baru sepasang. Yang cewek temen SMA, yang cowok temen nya kakak saya. Keduanya orang Bali. Tapi setelah berbangga sekian waktu, kayaknya saya mulai bisa melihat sisi lain dari kisah perjodohan yang sukses itu. Dalam hal ini saya jadi agak percaya sama hukum ekonomi, supply-demand, ketika ketersediaan cewek atau cowok bali nya langka, maka perjodohan jadi lebih mudah berhasil (supply rendah, demand tinggi=harga-harga barang turun=kebutuhan bisa terjangkau).
Sementara cerita perjodohan yang gagal bisa jadi karena teman-teman saya yang masih single melihat begitu banyak perbandingan dan pilihan. Sehingga ketika perkenalan belum sampai titik kesimpulan, keputusan ga cocok ma ni orang sudah dibuat. Buat teman Bali yang tadi, yang sebetulnya saya jamin juga mereka ga cocok, keputusan dibuat secara hati-hati. Karena baik yang cewek maupun cowok sama-sama celingukan, di luar sana orang Bali (yang ada dalam jangkauan nya) ga banyak. Saya sendiri ga maksud menilai bahwa mempertimbangkan banyak hal dan memilah-milih adalah sesuatu yang salah. Cuma ada beberapa karakter orang yang menurut saya agak keterlaluan merepotkan. Setengah dicariin dan ternyata ga bisa berlanjut, karena alasan yang hanya mereka berdua yang tahu. Abis itu masih minta dicariin lagi. Dan itu ditagihin tiap ketemu. Kalau udah begitu saya mulai merasa seperti mucikari. Memang sampai saat ini saya belum berorientasi pada keuntungan, tapi bisa jadi suatu saat saya perlu menetapkan biaya.
Beberapa hari ini saya agak berpikir serius tentang keberadaan teman-teman single ini. Sebelum tidur, atau saat memang sulit tertidur, saya menghabiskan waktu dengan menghitung-hitung berapa teman laki-laki yang masih ga berpasangan, dan berapa perempuannya. Setelah itu biasanya saya mencoba memasang-masangkan si A dengan si B. Setahun yang lalu saya masih ingat, jumlah perempuan selalu lebih banyak dari laki-laki. Masuk akal juga kalau diingat populasi perempuan memang lebih banyak dari laki-laki kan. Tapi kebalikannya sekarang, jumlah yang laki-laki udah lebih dari dua kali lipat. Nah ini penjelasannya bisa karena teman laki-laki saya lebih banyak, atau perempuan lebih tidak memilih ketimbang laki-laki, atau banyak laki-laki yang saat ini memang dianggap belum memenuhi syarat untuk dipilih. Daripada pusing mikirin pasal-pasal apa yang belum dimiliki para lelaki ini, mendingan tidur deh…
Filed under: Uncategorized
<!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>
Ada satu kecenderungan kita semua yang bernama manusia, dalam hidup ini kerap lupa terhadap seberapa banyak kebutuhan untuk mengambil dan kemampuan untuk menerima. Terutama yang namanya kebutuhan biologis, makan-minum, tidur sampai urusan senggama. Hampir selalu kita berhenti saat perut udah kekenyangan, dan jarang menolak kenikmatan meski sudah tidak kehausan. Sebetulnya biasa aja siy kalau dikembalikan ke sifat dasar makhluk berkaki dua ini, tapi yang menarik adalah kerakusan tersebut biasanya kemudian disusul dengan penyesalan. Hiks…
Habis makan atau minum kebanyakan terus kekenyangan, mengeluh rasa ingin memuntahkan semua. Sehari-hari pasti kita mengalami dan menemui kondisi semacam ini, dan meski menggelikan tapi selalu berulang-ulang kejadiannya. Kisah yang sedikit tragis biasanya sekitar hubungan laki-laki dan perempuan. Dan maaf-bukan selalu ya-tapi biasanya kerakusan ada di laki-lakinya. Seorang ibu yang kerja di rumah saya, berstatus bukan janda, meski nyatanya ia single parent. Anaknya 6 orang, dan sejak yang terkecil berusia 5 bulan, suaminya sudah pergi begitu saja. Kalau ada yang perlu dikasihani bukan karena ibu ini kemudian sendirian membesarkan anak-anaknya, tapi karena dia seumpama sumur, dibuat habis-sehabisnya. “Kenapa ibu selalu terima?”, pertanyaan saya pada dia saat kita berbincang di senggang malam. Maksud saya, kenapa dia ga menolak untuk ditiduri suaminya, meski setiap kali setelah itu dia habis dihajar, dan harus hamil sekian kali. Penjelasannya memang ga sederhana, karena pasti disitu ada soal relasi kuasa, ketidakberdayaan terhadap sosok suami, belum lagi soal kewajiban atas nama agama. Namun di suatu malam yang lain, saya menemukan penjelasan yang menarik dari ibu ini. Menurutnya, meski dia sakit hati atas perlakuan suaminya, yang main pukul dan sikat cewek lain sana sini di depan matanya, tapi dia merasa tubuhnya selalu membutuhkan laki-laki itu. Dia menjelaskan secara kronologis, hingga saya tak bergeming dibuatnya. Intinya, dia ingin menerima terus dan terus selama dia bisa melayani. Dan kini setelah 8 tahun suaminya pergi, dan dia tak menikah lagi, dia tetap mengatakan kalau laki-laki itu kembali saya tetap terima. Nah! bahkan seluruh pengalaman “kenyang” tersebut tetap tidak membuatnya merasa cukup.